You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.
Loading...
Logo Desa Sendangcoyo
Sendangcoyo

Kec. Lasem, Kab. Rembang, Provinsi Jawa Tengah

KANTOR KEPALA DESA SENDANGCOYO RT. 03 RW. 02 KECAMATAN LASEM KABUPATEN REMBANG KODE POS 59271

Sejarah Desa

Utomo 26 Agustus 2016 Dibaca 13.303 Kali
Sejarah Desa

Sejarah Desa Sendangcoyo

Desa Sendangcoyo adalah nama sebuah desa yang merupakan bagian dari Lasem.

Dalam Piagam Singosari tahun 1273 Saka atau 1351 Masehi disebutkan bahwa Kerajaan Majapahit memiliki 11 Kerajaan bawahan di wilayah yang kini menjadi Jawa Timur, Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dalam kitab Negarakretagama diceritakan pada tahun Syaka 1273 adalah Dewi Indu yang menjadi Ratu di Lasem dengan gelar Bhre Lasem, yang merupakan saudara sepupunya Prabu Hayam Wuruk di Majapahit.

Sesuai dengan :

  1. Veda Sabda Badra Santi karya Mpu Santibadra,
  2. Carita (Sejarah) Lasem karya Panji Karsono tahun1920,
  3. Sejarah Kawitane Wong Jawa lan Wong Kanung karya Mbah Guru tahun 1996,
  4. Nagara Kertagama dan Tafsir Sejarahnya karya Slamet Muljana Tahun 1979,  
  5. Lasem Kota Dampo Awang Sejarah yang Terlupakan karya Akrom Unjiya tahun 2008

Daftar raja-raja Lasem :

  1. Bhre Lasem Duhitendu Dewi (Dewi Indu Purnamawulan),
  2. Pangeran Badrawardana,
  3. Pangeran Wijayabadra,
  4. Pangeran Badranala,
  5. Pangeran Wirabraja,
  6. Pangeran Wiranagara,

Kerajaan Lasem berganti statusnya menjadi Kadipaten Lasem pada abad ke-15 sepeninggal Pangeran Wiranegara.

Daftar Adipati Lasem :

  1. Tejokusumo I atau Mbah Srimpet
  2. Tejokusumo II Pangeran Rama Senopati Mataram
  3. Tejakusumo III atau Raden Mas Wigit
  4. Tejokusumo IV atau Raden Mas Wicaksono
  5. Tejokusumo V atau Raden Panji Margono

Sesuai terjemahan Carita Sejarah LASEM, 

  1. Gubahan Raden Panji Kamzah Ing tahun Masehi 1858 (tahun jawa 1787),
  2. Katurun / Kajiplak Dening R. Panji Karsono Ing tahun Masehi 1920 (tahun jawa 1857 sasi pasa)

Disebutkan bahwasannya :

Adipati Tejakusuma I menurunkan Adipati Tejakusuma II,

Adipati Tejakusuma II menurunkan Raden Mas Wingit dan Raden Mas Wigit,

Selanjutnya Raden Mas Wigit yang merupakan putra terakhir menjadi Adipati Lasem dan mendapat gelar dengan nama Raden Panji Arya Adipati Tejakusuma III.

Adapun Raden Mas Wingit putra pertama dari Pangeran Tejakusuma II sejak kecil telah hidup dan pindah denganKanjeng Sultan Agung di Mataram, lantas menikah dan dijodohkan dengan seorang putri yang masih cucu dari Kanjeng Sultan. Tetapi setelah Sultan Amangkurat I diangkat menjadi Raja di Mataram dan bersekutu dengan kumpeni (penjajah) Belanda, apalagi perwatakan Raja baru tersebut kasar, sombong dan sok besar. Raden Mas Wingit menjadi tidak betah hidup di Mataram, karena tidak suka dengan sikap dan perilaku Sultan Amangkurat I.

Raden Mas Wingit lantas pamit dari Mataram dan pulang kembali ke tanah kelahiran nenek moyangnya di Lasem, membuka hutan dan menjadi cikal bakal dari desa baru di hutan Kajor, namanya berubah menjadi Pangeran Kajoran atau Panembahan Rama atau Pangeran Gulingwesi. Setelah Pangeran Adipati Anom putra Sultan Amangkurat I bersekutu dengan Raden Trunojoyo berusaha untuk berkudeta menggulingkan pemerintahan ayahnya, lantas Raden Mas Wingit Pamembahan Rama ikut membela dan membantu menantunya, Raden Trunojoyo melawan Sultan Amangkurat I. Tetapi, kelak di kemudian hari setelah Pangeran Adipati Anom diangkat menjadi raja dan mendapat gelar Sultan Amangkurat II menggantikan ayahnya, justru berbalik dan gantian memusuhi Raden Trunojoyo dan Panembahan Rama.

Orang-orang Mataram yang pernah disiksa dan dipermainkan oleh Sultan Amangkurat I lantas ikut mengungsi ke Lasem dan membuka hutan Megamalang. Megamalang sekarang menjadi salah satu nama wilayah Rukun Tetangga dengan sebutan Gomalang, dan untuk mengelabuhi penjajah Belanda, maka tempat pengungsian tersebut disebut dengan sebutan Mentoro (berasal dari kata Mataram).

Disebutkan dalam Naskah Jawa Kuno dalam aksara carakan yang sekarang tersimpan di British Library dengan kode IOL Jav 29, bahwasannya Panembahan Rama/ Raden Mas Wingit/ Mbah Gulingwesi setelah wafat dikebumikan di Mentoro.

Sesuai dengan tutur lisan dari para sesepuh bahwa dalam perjalanan waktu dimasa penjajahan, karena wilayah Mentoro berdekatan dengan wilayah Teluweng, Deles, Kebon, Sukolilo dan Lorog bermusyawarah membentuk satu desa baru. Dikarenakan adanya SENDANG (sumur) dengan air yang sangat melimpah yang bertempat di Teluweng dan COYO (cahaya) yang sangat terang benderang di Mentoro, maka para sesepuh bermusyawarah dan sepakat membentuk satu desa dengan sebutan DESA SENDANGCOYO.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kabar Rembang